Motif Batik Solo dan Penjelasannya

Motif Batik Solo dan Penjelasannya

ANDA BIASA MEMAKAI BATIK? MUNGKIN MOTIF BATIK SOLO INI PERNAH ANDA PAKAI

 

Solo merupakan sebuah Kota di wilayah Jawa Tengah dan masih masuk dalam krasidenan Surakarta, Solo mempunyai julukan “the spirit of java” karena di Solo masih sangat lekat dengan kebudayaan Jawa. Solo juga dikenal dengan ikon batiknya, berbagai macam motif batik bisa ditemukan di Solo.

Berikut berbagai macam motif batik Solo

 

MOTIF BATIK SOLO SLOBOGMotif Batik Solo dan Penjelasannya

 

Slobog berarti longgar/besar, Batik solo ini biasa dipakai untuk melayat. Makna yang terkandung di dalam motif batik ini agar arwah seseorang yang meninggal tidak mendapat halangan dan dapat diterima kebaikannya.

 

MOTIF BATIK SOLO SIDOMUKTI

Motif Batik Solo dan Penjelasannya

Batik Sidomukti biasanya dipakai saat seseorang sedang melakukan pernikahan sebelum seseorang perempuan dan pria melanjutkan kehidupannya membentuk keluarga bersama. Motif batik Sidomukti tidak hanya ada di Solo, di Yogyakarta dan Magetan juga dapat kita temukan motif batik ini. Namun motif batik Sidomukti Solo memiliki corak tradisional dengan lekuk-lekuk yang simetris untuk batik cap maupun tulisnya, penataan pola motif batik Sidomukti Solo masih mengikuti aturan-aturan tertentu. Setiap ornamen dan motifnya memiliki makna dan filosofis dari pengaruh budaya. Bahan yang digunakan untuk pewarna batik pun masih memakai bahan alami seperti soga Jawa. Motif Batik Sidomukti Solo memiliki warna-warna coklat kemerahan, biru tua dan warna putihnya cenderung mengarah pada krem atau berwarna coklat kekuningan atau sogan.

 

MOTIF BATIK SOLO KAWUNG

Motif Batik Solo dan Penjelasannya

Sebuah motif batik yang paling sering ditemui di Solo, sejarah motif batik kawung berawal dari sebuah larangan terhadap motif batik ini pada zamannya.

Motif batik kawung sudah dikenal sejak abad 13 penciptanya adalah sultan Mataram pada waktu itu, penciptaan motif batik Solo terinspirasi dari buah kolang-kaling dari batang pohon aren, pendapat lain mengatakan motif batik kawung berasal dari binatang kuwangwung. Filosofi yang terkandung pada pohon aren mulai dari atas (ujung daun) hingga pada akarnya sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, hal tersebut menyiratkan agar manusia berguna bagi semua orang dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, juga bernegara.

Sebelum kerajaan Mataram terbagi dua motif batik kawung ini hanya diperuntukan untuk keluarga kerajaan.

Namun setelah terbagi dua motif ini diperuntukan untuk golongan berbeda, Keraton Surakarta, motif batik kawung ini dikenakan oleh para Punokawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) dan para Abdi dalem jajar priyantaka.

Motif batik kawung mempunyai pola geometris yang juga memiliki makna khusus dalam filosofi adat jawa yaitu mencerminkan adanya satu titik pusat kekuatan dan kekuasaan didalam alam semesta, pun juga pada manusia. Episentrum power atau kekuasaan didalam motif batik kawung yaitu motif kawung (kolang-kaling) dikelilingi oleh empat bulatan atau persegi empat, atau kumpulan bintang sebagai wujud penyatuan unsur yang selaras, yaitu unsur alam (Makro Kosmos) dan unsur manusia (Mikro Kosmos).

Pada umumnya turunan motif batik kawung diberi nama berdasarkan ukuran bentuk bulat-lonjong yang ada pada suatu motif batik kawung tertentu. Misalnya,

 

motif batik kawung picis yang merupakan motif kawung yang tersusun oleh bentuk bulat-lonjong yang berukuran kecil menyerupai mata uang picis senilai dengan sepuluh senyang.

Motif batik kawung bribil merupakan salah satu jenis motif kawung yang tersusun oleh bentuk bulat-lonjong yang ukurannya menyerupai mata uang bribil senilai setengah sen.

Motif batik kawung sen merupakan salah satu jenis motif kawung dimana ukuran isen-isennya sebesar mata uang sen. Seringkali mata uang sen digunakan untuk ditebar sepanjang jalan sebagai pengiring jenasah hingga pada akhirnya kain batik kawung ini digunakan sebagai penutup orang mayat sebelum di kafani atau disemayamkan. Sumber lain mengatakan bahwa karena filosofi dari motif batik kawung sen yang memaknai kehidupan akan kembali ke alam sawung.

Leave a Comment